Negara Inggris Melarang PETSHOP menjual ANJING

www.anjinglucu.com | Untuk melindungi dan menekan jumlah kasus eksploitasi hewan peliharaan, pemerintah Britania Raya melarang penjualan anjing dan kucing melalui toko hewan (petshop). Pemerintah mengatakan larangan dalam undang-undang baru itu akan menindak peternakan anak anjing ilegal dan mempersulit para pedagang tidak bermoral yang abai pada kesejahteraan hewan.

Undang-undang tersebut menyusul larangan penjualan anak anjing dan anak kucing di bawah delapan minggu untuk toko hewan berlisensi. Larangan itu dikeluarkan pada Oktober 2018.

Langkah ini diumumkan oleh Departemen Lingkungan Pangan dan Urusan Pedesaan menyusul konsultasi publik hingga mendapat dukungan sebanyak 95 persen, 23 Desember lalu. Sebelumnya, pemerintah juga membuat petisi pada awal 2018 yang ditandatangani oleh 150 ribu orang hingga memicu perdebatan di parlemen.

Menteri Kesejahteraan Hewan, David Rutley, juga menegaskan bahwa larangan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan hewan peliharaan mendapat awal kehidupan yang lebih baik.

Jadi warga tetap boleh mencari anak anjing atau kucing untuk dipelihara. Namun, warga harus mendapatkannya langsung dari peternak atau pusat pemeliharaan hewan.

Undang-undang baru ini juga disebut sebagai Lucy’s Law. Namanya diambil untuk menghormati Lucy, anjing jenis Cavalier King Charles Spaniel yang diselamatkan oleh aktivis bernama Lisa Garner dari peternakan anak anjing di Wales pada 2013.

Lucy meninggal pada 2016 setelah menghabiskan sebagian besar hidupnya di kandang dan tidak dapat berkembang karena kurang bergerak. Peristiwa ini langsung memicu respons positif dari para aktivis penyayang binatang. Misalnya dari rumah perlindungan hewan paling terkenal di Inggris, Battersea Cat and Dogs Home, dan Pup Aid.

Battersea pun melakukan pengusutan kasus penelantaran anjing paling viral di Inggris Raya. Kasus tersebut terungkap dari CCTV yang menayangkan tindakan seorang pengemudi mobil menurunkan dan meninggalkan anjingnya di wilayah Trentham, 145 mil barat laut London.

Kepala Eksekutif Battersea, Claire Horton, mengatakan bahwa undang-undang termaksud akan membantu mengakhiri tindakan sadis terhadap anjing. Misalnya, anjing tidak lagi dijadikan mesin berkembang biak dan dipelihara dalam kondisi mengenaskan.

“(Undang-undang) Ini adalah kemenangan nyata bagi para pegiat kampanye grassroot serta anjing dan kucing di Britania Raya,” ucap Marc Abraham, seorang dokter hewan yang juga pesohor dan pendiri Pup Aid, seperti dikutip Associated Press (h/t Huffington Post ), Selasa (25/12/2018).

Dia juga mengatakan, beleid itu akan membuat para peternak lebih bertanggung jawab dan menyulitkan rencana penjualan anak anjing dan anak kucing yang diselundupkan secara ilegal.

Britain’s People’s Dispensary for Sick Animals (PDSA) mencatat, setidaknya 49 persen orang dewasa di Britania Raya memiliki satu hewan peliharaan pada 2018. Populasi kucing peliharaan diprediksi mencapai 11,1 juta ekor, anjing peliharaan 8,9 juta ekor, dan kelinci 1 juta ekor.

Sikap pemerintahan Inggris Raya yang mengeluarkan undang-undang untuk melindungi hewan peliharaan ini pun diharapkan bisa menjadi pionir. Para aktivis berharap negara-negara Eropa akan segera menirunya.

Para aktivis pun menilai undang-undang baru juga akan membatasi gerak asal warga untuk mengambil hewan peliharaan. Mereka tak lagi bisa mengambil hewan peliharaan dari pihak ketiga (toko hewan) dan tidak lagi menjadi hewan sebagai hadiah bagi anak.

[su_youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=JqSzEYpp_w4″]

Sumber : Beritagar

RelatedPost

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.